Laporan : Muh. Jumain
Di ujung jalan sempit yang membelah deretan rumah toko tua di Kota Tua Donggala, dua lampion merah menggantung tenang di bawah papan bertuliskan “Depot Happy”. Cat pintu kayu yang mulai pudar—hijau, biru, dan krem—seolah menjadi saksi bisu perjalanan panjang komunitas Tionghoa di kota pelabuhan tua ini. Di sinilah, setiap kali Tahun Baru Imlek tiba, jejak sejarah dan harapan baru berkelindan dalam suasana yang sederhana namun sarat makna.
Donggala, yang dahulu dikenal sebagai bandar niaga penting di pesisir barat Sulawesi, menyimpan kisah perjumpaan banyak bangsa. Sejak abad ke-19, pedagang Tionghoa datang dan menetap, membuka toko, berdagang kain, rempah, hingga kebutuhan pokok. Di lorong-lorong kota tua inilah denyut kehidupan mereka tumbuh—bersama masyarakat lokal Kaili, Bugis, Mandar, dan lainnya—membentuk mozaik sosial yang khas.
Menjelang Imlek, kawasan kota tua yang biasanya lengang mulai berubah wajah. Pintu-pintu kayu dibersihkan, dinding dicat ulang seadanya, dan lampion merah dipasang di teras rumah atau ruko. Aroma kue keranjang yang dikukus perlahan menyeruak dari dapur-dapur tua. Anak-anak berlarian dengan pakaian merah, sementara orang tua sibuk menyiapkan hidangan khas: mie panjang umur, ayam rebus utuh, dan jeruk sebagai simbol rezeki.
Bagi warga Tionghoa Donggala, Imlek bukan sekadar pesta pergantian tahun. Ia adalah momen pulang—secara batin—kepada akar tradisi. Sebagian keluarga memulai perayaan dengan sembahyang di altar rumah, menyalakan hio dan lilin merah sebagai penghormatan kepada leluhur. Doa-doa dilantunkan lirih, memohon kesehatan, kelancaran usaha, dan kedamaian bagi kota yang mereka cintai.
Di masa lalu, perayaan Imlek di Donggala pernah berlangsung lebih semarak. Barongsai menyusuri jalan kota tua, tabuhan tambur menggema hingga ke pelabuhan, dan warga dari berbagai latar belakang berkumpul menyaksikan atraksi tersebut. Kini, perayaannya mungkin lebih sederhana. Namun semangat kebersamaan tetap terasa. Tetangga non-Tionghoa datang bersilaturahmi, mencicipi kue, dan berbagi tawa.
Kota Tua Donggala sendiri menyimpan romantika yang unik. Bangunan-bangunan bergaya kolonial dengan jendela tinggi dan pintu kayu lebar berdiri berdampingan dengan toko-toko keluarga yang diwariskan turun-temurun. Di sudut-sudut jalan, sejarah seakan berbisik tentang masa ketika kapal-kapal dagang berlabuh membawa barang dan cerita dari negeri jauh. Komunitas Tionghoa menjadi bagian penting dari denyut ekonomi kala itu.
Imlek di Donggala adalah perayaan yang bersahaja. Tidak ada gemerlap kembang api besar atau parade megah seperti di kota-kota besar. Namun justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan kehangatan. Anak-anak menerima angpao dengan mata berbinar. Orang tua duduk berbincang tentang tahun-tahun yang telah berlalu—tentang badai, gempa, dan pasang surut kehidupan—seraya berharap tahun yang baru membawa keberuntungan.
Di tengah perubahan zaman dan tantangan ekonomi, komunitas Tionghoa Donggala tetap bertahan, merawat tradisi sekaligus berbaur dalam kehidupan sosial yang harmonis. Imlek menjadi pengingat bahwa identitas budaya dapat hidup berdampingan dengan nilai kebersamaan.
Saat senja turun di Kota Tua Donggala, lampion-lampion merah itu menyala lembut, memantulkan cahaya pada dinding-dinding tua yang menyimpan sejarah panjang. Di balik pintu-pintu kayu yang mungkin tampak sunyi, doa dan harapan terus dipanjatkan—untuk keluarga, untuk usaha, dan untuk Donggala yang damai.
Imlek bukan hanya tentang tahun baru. Di kota tua ini, ia adalah tentang ingatan, ketahanan, dan keyakinan bahwa setiap awal selalu membawa kemungkinan baru. ***
![]()











