Berita  

Menghukum Waktu: Menggugat Jalan Sunyi Pameran Seni Rupa

PALU – Di sebuah Cafe di jalan Setiabudi, tepatnya Cafe Ondewei 167,5 yang biasanya riuh suara musik dan obrolan anak muda, malam itu suasana berubah menjadi lebih hening. Pada beberapa ruangan di dalam kafe itu, terpajang beberapa lukisan karya Wiyoso ‘Iwin’ Yoganingrat. Guratan garis-garis penuh warna seolah tak pernah selesai menumpahkan maknanya. Ia menyebutnya sebagai ‘Garis Risau’. Inilah pusat dari pameran tunggal bertajuk “Menghukum Waktu”, yang digelar mulai 17 hingga 20 November 2025.

Lukisan yang dipamerkan umumnya didominasi bentuk-bentuk geometris, atau kubisme dengan menggunakan warna kontras yang kuat, dan garis-garis tegas untuk membangun cerita visual.

Sepintas seperti karya seni biasa. Namun di tangan Wiyoso, ia menjadi medium yang menyimpan luka, usia, dan jejak perjalanan. “Ini saya temukan di Bali,” katanya sambil menunjuk salah satu lukisan.

Baca Juga :  Gubernur Sulteng dan Pangdam XXIII/Palaka Wira Tiba di Morowali, Hadiri HUT ke-12 Kabupaten Morowali Utara

Ketika ‘Jalan Sunyi’ pameran seni lukis di Kota Palu kian parah, ia justru menemukan gagasan “Menghukum Waktu” yang lahir dari sebuah upaya menangkap rapuhnya hidup dan kerasnya perjalanan usia.

Cafe Ondewei: Musik, Obrolan dan Seni Bertemu Tanpa Batas

Pemilihan Cafe Ondewei sebagai lokasi pameran bukan tanpa alasan. Kafe ini belakangan dikenal sebagai ruang alternatif baru bagi pekerja kreatif di Kota Palu. Di cafe ini musik, diskusi, dan seni dapat bertemu tanpa batas.

Baca Juga :  Kukuhkan Program Berani Cerdas, Gubernur Sulteng: Pertama di Indonesia

“Suguhan kopi bintang kopi khas palu, jadi brand disini”, kata Adi Tangkilisan.

Mengapa Kita Menghukum Waktu?

Judul pameran ini menggugah sekaligus paradoks. Bagaimana mungkin manusia menghukum waktu—sesuatu yang tak bisa disentuh?

Disini Ia ingin menjelaskan bahwa manusia sering menyalahkan waktu atas kegagalan, kehilangan, atau usia yang bertambah. Padahal bukan waktu yang bersalah, kita mungkin sedang takut menghadapi perubahan.

Wiyoso lewat karya-karyanya seakan sedang mengajak pengunjung berdamai dengan detik yang terus berjalan.

Di akhir ruangan, ada satu karya yang paling banyak menarik perhatian: KUK!
Seakan melambangkan kesempatan yang hilang atau masa lalu yang tak bisa disimpan.

Baca Juga :  Unik dan Inspiratif, Gubernur Anwar Hafid Gelar Retret Kepala Dinas di Masjid

Waktu memang tidak pernah kembali. Mungkin disitulah kekuatan pameran ini: setiap orang menemukan dirinya sendiri dalam garis dan bentuk yang saling bertabrakan. [JOEM]

Loading