Ketika Gubernur Sulawesi Tengah Beri Ruang pada Seniman Untuk Berekspresi Diperayaan HUT Ke-80 RI

Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah H. Anwar Hafid dan dr. Reny Lamadjido, melihat dari dekat pertunjukan seni oleh perupa Endeng Mursalin di halaman belakang kantor Gubernur usai upacara peringatan HUT ke-80 RI Minggu (17/8/2025)

PALU—Perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia di halaman Kantor Gubernur Sulawesi Tengah tahun ini menghadirkan suasana berbeda. Di tengah upacara khidmat dan derap pasukan pengibar bendera, hadir pula para seniman lokal yang mencoba mencari ruang untuk mengekspresikan karya mereka.

Dua perupa kondang kota Palu, Endeng ‘Aba’ Mursalin dan Udhin FM menampilkan karya lukisan mereka ditemani juga oleh Eman Saja (pembaca puisi) dan Natsir (peniup lalove) di pelataran kantor gubernur sulteng, Minggu (17/8/2025).

Berpadu dengan semangat kemerdekaan, pameran lukisan yang menggambarkan perjalanan panjang republik, para seniman tetap berusaha memanfaatkan momen ini agar seni tidak hanya menjadi pelengkap, melainkan bagian dari perayaan kebangsaan.

Bagi sebagian seniman, kehadiran mereka di kantor gubernur pada 17 Agustus bukan sekadar tampil di depan khalayak, tetapi juga sebuah pesan: bahwa seni adalah cermin dari jiwa bangsa.

“Kami mencari ruang, bukan sekadar panggung. Kami ingin menunjukkan bahwa semangat merdeka juga hidup lewat karya,” ujar Aba panggilan sehari-hari Endeng Mursalin.

Baca Juga :  Tim Biro Adpim Unjuk Gigi di Lomba Dero Kreasi Sulteng Nambaso

Pameran lukisan dari dua perupa kondang kota palu ini mendapat apresiasi dari masyarakat yang hadir serta Gubernur dan Wakil Gubeenur.

Mereka menyaksikan bahwa peringatan hari kemerdekaan bisa lebih bermakna bila diiringi dengan sentuhan budaya dan seni.
Di tengah gegap gempita 17 Agustus, para seniman Sulawesi Tengah berhasil menorehkan pesan penting: kemerdekaan bukan hanya peristiwa politik, tetapi juga ruang ekspresi yang harus terus dihidupkan melalui karya dan kebudayaan.

Endeng Mursalin “Orgasme” Diperayaan 17 Agustus Kali ini?

Endeng Mursalin adalah salah satu perupa asal Palu, Sulawesi Tengah, yang dikenal konsisten menghadirkan karya-karya seni rupa bernuansa sosial, budaya, dan lingkungan. Ia aktif dalam berbagai pameran lokal maupun nasional, dan karyanya sering menjadi refleksi terhadap realitas masyarakat Sulawesi Tengah, terutama seputar identitas, trauma bencana, dan nilai-nilai kearifan lokal.

Baca Juga :  Dialog Publik Yayasan Tadulakota: Perencanaan Strategis Berbasis Komunitas

Endeng tidak hanya bekerja di atas kanvas, tetapi juga kerap menggunakan medium instalasi, mural, hingga ruang publik sebagai sarana ekspresi. Dengan gayanya yang khas, ia mencoba menjembatani seni dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam konteks perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia di Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, nama Endeng Mursalin relevan karena ia termasuk seniman yang vokal tentang pentingnya pemerintah memberi ruang pada pelaku seni.

Kehadiran seniman seperti Endeng bisa memperkaya makna peringatan kemerdekaan, bukan sekadar seremoni, melainkan juga momentum mengangkat ekspresi kebudayaan daerah.

Sementara itu, Fatahuddin Mujahid, yang lebih akrab disapa Udhin FM, adalah seorang pelukis asal Palu, Sulawesi Tengah, yang telah lama berkecimpung di dunia seni rupa. Ia dikenal dengan karya-karya lukisan yang sering mengangkat tema kemanusaiaan, alam maupun tokoh sekaligus memotret dinamika sosial di Sulawesi Tengah.

Udhin FM tidak hanya berkarya untuk dirinya sendiri, tetapi juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan seni, pameran kolektif, hingga gerakan komunitas perupa di Palu. Gaya lukisannya cenderung ekspresif dengan sapuan warna yang kuat, seolah menjadi medium untuk menyuarakan keresahan sekaligus harapan.

Baca Juga :  Dialog Publik Yayasan Tadulakota: Perencanaan Strategis Berbasis Komunitas

Sebagai seniman, Udhin FM juga kerap menyuarakan pentingnya ruang bagi seniman lokal di tengah arus pembangunan. Baginya, seni rupa bukan sekadar karya visual, melainkan cara untuk membangun kesadaran, menyembuhkan luka, dan memperkuat identitas budaya daerah.
Dalam momentum-momentum besar seperti perayaan HUT RI, kehadiran pelukis seperti Udhin FM dapat memberi warna tersendiri. Melalui lukisan, ia menghadirkan tafsir lain tentang kemerdekaan—bukan hanya upacara simbolik, tetapi juga kebebasan berekspresi dan menjaga keberagaman.

Penulis : Muh. Jumain, Pencinta Laut, Tinggal di Palu

Loading